Isma Adela: Dari Warung Madura hingga Teknologi AI

Sumenep, Kirsmada.com. Di balik wajah teduh dan suara lembut Isma Adela, siapa sangka simpanan semangat yang mampu menembus dua panggung lomba esai sekaligus? Siswi SMA Negeri 2 Sumenep ini berhasil menorehkan prestasi bergengsi dengan meraih juara 3 dalam dua ajang berbeda secara bersamaan: AECIVEST 2025 tingkat nasional yang digelar oleh UPN Veteran Jawa Timur dan HIMMAPHORIYA CUP tingkat Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Universitas Wiraraja (Unija).
Semua berawal dari keinginannya untuk menantang diri sendiri. Setelah dua tahun aktif di ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Isma merasa inilah saatnya menguji kemampuan menulisnya di level yang lebih tinggi. “Saya ingin memberi sesuatu untuk sekolah. Kalau bisa lewat tulisan, kenapa tidak?” sambil tersenyum.
Dua esai pun lahir dari proses panjang yang penuh penelitian, diskusi, dan revisi. Untuk Unija, ia menulis tentang "Warung Madura: Simbol Kekuatan Komunitas dalam Ekonomi Kolaboratif Era Digital.” Sedangkan untuk UPN, ia mengangkat tema global melalui esai “Teknologi AI dalam Dunia FnB (Food and Beverage): Antara Kenikmatan, Kesehatan, dan Keberlanjutan.” Dua tema yang berbeda, tapi satu semangat: menawarkan solusi lewat tulisan.
Setiap malam, ia mengatur waktu antara belajar untuk Penilaian Sumatif Akhir Tahun dan menyusun PowerPoint untuk dua presentasi final yang—secara kebetulan—jatuh di hari yang sama: 31 Mei 2025. “Itu hari yang luar biasa padat. Saya belajar dua materi sekaligus, dua gaya, dua pendekatan,” kisahnya.
Suasana kedua lomba pun sangat berbeda. Di Unija, ia harus melangkah langsung ke ruang presentasi, bertemu juri tatap muka dengan waktu yang padat sejak pengumuman final hingga presentasi. Sementara di UPN, semuanya berlangsung dengan berani—lebih santai, namun tetap penuh tantangan.
Namun, semua kerja keras itu membuahkan hasil yang manis. “Bagi saya, menjadi juara bukan soal gengsi. Tapi bukti bahwa tulisan saya layak dibaca, punya makna, dan bisa memberi dampak,” ungkap Isma dengan mata berbinar.
Ia mengakui, tak mudah menjaga semangat saat harus membagi fokus, menahan lelah, dan terus berpikir kritis. Tapi dukungan dari guru pembina, keluarga, dan teman-temannya menjadi bahan bakar yang tak bernilai. “Saya tidak sendiri dalam proses ini,” katanya pelan, tapi yakin.
Kini, Isma tak ingin berhenti. Ia sudah menyiapkan langkah selanjutnya: mengikuti lomba esai berikutnya. “Saya ingin menyuarakan lebih banyak hal melalui tulisan. Dan saya percaya, setiap kata punya kekuatan untuk mengubah cara memandang orang,” tegasnya.
Dari Warung Madura hingga teknologi AI, Isma membuktikan bahwa ide besar bisa lahir dari sudut manapun. Bahkan dari sebuah ruang belajar di Sumenep. Dan mungkin, kisah ini baru saja dimulai.